Senin, 09 Januari 2017

Kekosongan

Dulu, dulu sekali aku pernah cerita atau lebih tepatnya curhat, tentang apa arti kebahagiaan sejati. Aku bertanya karena saat semua hal baik, semua hal yang bisa membuat seseorang merasa bahagia datang kediriku, namun di balik itu semua, ada rasa sepi, ada rasa kosong yang hinggap. Seolah isi dari jiwaku ikut lepas bersamaan dengan tawa yang kulepas, bersamaan dengan senyum yang kutebar dan bersamaan dengan kata-kata yang keluar terucap, terungkap. Bersama waktu yang kuhabiskan dengan teman-teman di hari itu, bersama harapan dan kebertuntungan yang terwujud, kekosongan menghinggapi dan rasa kosong itu membuatku bertanya tentang rasa bahagia. Bahagia namun kosong atau kosong namun bahagia? Entah yang mana yang kurasakan saat itu. Entah pula kata-kata tersebut mempunyai makna
 
gambar diambil dari sini

Dan aku kembali merasa hal yang sama. Kekosongan. Dia menghinggapiku lagi. Kekosongan ini membuatku menghubungkannya dengan postinganku waktu itu. Menghubungkan dan mencoba membuatku mencari benang merah antara kosong dan rasa bahagia. Saat itu, ditulisan tersebut, kesimpulanku adalah rasa kosong yang berujung pada rasa tidak bahagia ataupun rasa bahagia namun berujung pada rasa kosong disebabkan karena aku jauh dari Tuhan. Kali ini? Ya, bisa dikatakan sama. Namun tak urung aku mencoba mencari tahu, rasa kosong ini bersumber dari mana. Apa penyebabnya? Apa itu rasa bahagia? Apakah yang kucari adalah rasa bahagia demi mengusir rasa kosong ini. Sulit untuk memutuskan yang mana.