Selasa, 01 Maret 2016

Catatan Bebas

Aku menuliskan inti dari postingan ini sudah cukup lama, sekitar Desember tahun lalu. Aku kira bisa kulanjutkan dan membuat postingan ini menjadi sedikit lebih panjang. Namun nyatanya tidak berkembang ke arah yang aku mau. Sepertinya tidak ada yang bisa kutambahan selain crap talk yang sedang kuketik ini dan kuletakkan di paragraph awal pada postingan ini. Iya, tambahannya adalah apa yang sedang kamu baca ini.

sumber

Dan jika aku bisa melanjutkan crap talk ini, mungkin aku akan sedikit membahas situasi atau keadaan ketika aku menuliskan hal ini. Bukan! Bukan menuliskan puisinya (jika itu bisa disebut puisi). Aku akan bercerita sedikit saat menuliskan crap ini karena memang begitulah isi blog ini. Kata-kataku meluncur tak tentu arah seperti cipratan air yang jatuh ke atas batu yang cadas.

Saat ini wangi ikan asin yang digoreng Emak menguar mengisi udara. Harum memang! Membangkitkan selera makan pula. Namun wangi teri yang sedang digoreng menurutku lebih harum dan gurih dari ini. Teri bagiku adalah ikan asin yang saat di goreng, baunya tidak terlalu menusuk dan gurihnya sangat mengundang selera. Eh, tapi tidak semua teri. Ada teri yang disebut Teri Pulau sama Emak. Teri Pulau asli (karena ada yang KW), itu yang enak baunya itu. Dan sedikit bicara soal ikan asin, aku paling suka ikan asin yang dimasak tumis dengan cabai rawit dan irisan tomat serta bawang. Cabai Rawit, lho, ya, bukan cabai hijau. Hemm… *inget mie instan*

What? Sudah lima pargaraf saja (termasuk paragraph yang berisi puisinya). Sudahlah, aku harus membatasi ocehan ini. Aku akan segera mempostingnya hari ini di salah satu lini blogku yang jarang kena update-an ini. Hey, tenang, aku sudah membuat jadwalnya. Dan selasa adalah hari untuk memperbaharui blog ini. Aku sebenarnya jarang posting di sini lagi karena kekurangan ide. Haha, pikiranku habis ke blog sebelah. Bukan blog orang lain. Maksudnya blog aku juga, yang BukuLova itu, haha.

Ya, sudahlah, mari kita baca bareng puisinya (?). Ini ungkapan kekesalan, sih. Semoga lain kali aku bisa buat puisi yang temanya lebih bahagia dari ini. Ya, semoga. Oke, have a  good time, enjoy.

“Apa yang bisa dikatakan oleh awan? Dia membisu dan hanya menatap dengan ragu. Mimpi yang hilang. Mugkin memang jika ingin mewujudkan sesuatu kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri. Jangan ceritakan biar suara keberhasilannya saja yang menjerit. Aku jatuh dan bangkit adalah satu-satunya pilihan. Jika dia matahari, akan kutantang dia. Meski panasnya menelanku. Meski aku kan hancur dan luluh.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar