Senin, 04 April 2016

Kenangan Warna Begitu Merah

Pernahkah ada satu hal yang terjadi di waktu yang lalu namun sulit untuk dihapus dari ingatan? Sesuatu yang begitu membekas karena faktor "begitu" yang melekat. Ini seperti hal-hal yang  begitu menyedihkan, begitu menyenangkan, begitu mengecewakan, begitu mendamaikan, begitu sederhana, begitu rumit, serta aneka ragam begitu lainnya. "Begitu" yang dipahat dengan tulus oleh hati dan pikiran tak peduli apakah begitu negatif atau positif hal tersebut. Satu hal yang begitu sulit hilang begitu saja seperti jejeran piramida raksasa di pinggiran sungai Nil.

sumber

Ada satu "begitu" yang mulai melekati dasar benakku. Satu frame kejadian yang warnanya masih begitu tajam dan jelas. Tak hanya bagi indra mata, aku masih bisa merasakan suasananya, mendengarkan suaranya, mengendus baunya, namun syukurlah saat itu aku tidak menyentuhnya. Warna-warna yang kontras yaitu merah dan putih. Wajah kecil yang polos dan menderita. Udara yang terselubung warna merah yang tertumpah dari mulut makhluk kecil yang malang.

Kuning Genteng

Dulu, dulu sekali aku mengenal warna ini dengan sebutan kuning genteng. Begitu pula dengan yang sekawanan dengan warna tersebut semisal merah jambu untuk warna pink, biru terong untuk warna ungu, dan biru donker untuk warna biru gelap. Kuning genteng kutemui sebagai warna oranye. Setiap kali menggunakan pensil warna sewaktu kanak-kanak dulu, begitulah aku menyebutnya. Entah siapa yang memulai penyebutan seperti ini.

sumber
 
Aku suka bertanya. Dulu aku pernah bertanya mengapa warna-warna tersebut dinamakan seperti itu. Aku mencoba mencari tahu. Aku lantas membandingkannya dengan warna jambu air di halaman rumah si Mbah jika sedang berbuah. Pernah juga kubandingkan dengan warna terong yang Emak masak di dapur. Begitu pula dengan warna salah satu baju Emak yang donker. Aku membandingkan warna benda-benda tersebut dan mencoba mencari persamaannya dengan warna pensil warna yang kugunakan untuk mewarnai gambar. Dan untuk warna kuning genteng, aku pernah memperhatikan dengan sebaik-baiknya warna asli genteng rumah Pak De yang letaknya memang tidak jauh dari rumah si Mbah. Aku menyimpan warna itu di benakku sambil mengangguk setuju warna tersebut memang layak disebut kuning genteng.

Persembahan Terbaik

Menurutku, salah satu persembahan terbaik yang bisa kita berikan untuk orang yang kita sayangi itu adalah Waktu. Yeah, mungkin kita bisa membeli banyak hal namun waktu adalah makhluk liar  yang tidak bisa kita beli atau isi ulang. Waktu adalah pemberian yang tidak pernah bisa kita miliki. Sekalinya waktu melintasi kita, dia tidak akan bisa kembali.

sumber
 
Oleh karenanya, aku selalu menyempatkan diri untuk duduk bareng bersama keluargaku setelah tenaga dan terlebih pikiran disita oleh kesibukan atau pekerjaan. Biasanya saat malam tiba, di ruang keluarga, tivi akan menyala dan kami menonton bersama-sama sambil berbincang tentang apa saja. Yeah, walaupun badan capek dan tempat tidur sangat menggoda, namun sedapat mungkin aku tidak melewatkan momen ini.

Selasa, 01 Maret 2016

Catatan Bebas

Aku menuliskan inti dari postingan ini sudah cukup lama, sekitar Desember tahun lalu. Aku kira bisa kulanjutkan dan membuat postingan ini menjadi sedikit lebih panjang. Namun nyatanya tidak berkembang ke arah yang aku mau. Sepertinya tidak ada yang bisa kutambahan selain crap talk yang sedang kuketik ini dan kuletakkan di paragraph awal pada postingan ini. Iya, tambahannya adalah apa yang sedang kamu baca ini.

sumber

Dan jika aku bisa melanjutkan crap talk ini, mungkin aku akan sedikit membahas situasi atau keadaan ketika aku menuliskan hal ini. Bukan! Bukan menuliskan puisinya (jika itu bisa disebut puisi). Aku akan bercerita sedikit saat menuliskan crap ini karena memang begitulah isi blog ini. Kata-kataku meluncur tak tentu arah seperti cipratan air yang jatuh ke atas batu yang cadas.

Saat ini wangi ikan asin yang digoreng Emak menguar mengisi udara. Harum memang! Membangkitkan selera makan pula. Namun wangi teri yang sedang digoreng menurutku lebih harum dan gurih dari ini. Teri bagiku adalah ikan asin yang saat di goreng, baunya tidak terlalu menusuk dan gurihnya sangat mengundang selera. Eh, tapi tidak semua teri. Ada teri yang disebut Teri Pulau sama Emak. Teri Pulau asli (karena ada yang KW), itu yang enak baunya itu. Dan sedikit bicara soal ikan asin, aku paling suka ikan asin yang dimasak tumis dengan cabai rawit dan irisan tomat serta bawang. Cabai Rawit, lho, ya, bukan cabai hijau. Hemm… *inget mie instan*

What? Sudah lima pargaraf saja (termasuk paragraph yang berisi puisinya). Sudahlah, aku harus membatasi ocehan ini. Aku akan segera mempostingnya hari ini di salah satu lini blogku yang jarang kena update-an ini. Hey, tenang, aku sudah membuat jadwalnya. Dan selasa adalah hari untuk memperbaharui blog ini. Aku sebenarnya jarang posting di sini lagi karena kekurangan ide. Haha, pikiranku habis ke blog sebelah. Bukan blog orang lain. Maksudnya blog aku juga, yang BukuLova itu, haha.

Ya, sudahlah, mari kita baca bareng puisinya (?). Ini ungkapan kekesalan, sih. Semoga lain kali aku bisa buat puisi yang temanya lebih bahagia dari ini. Ya, semoga. Oke, have a  good time, enjoy.

“Apa yang bisa dikatakan oleh awan? Dia membisu dan hanya menatap dengan ragu. Mimpi yang hilang. Mugkin memang jika ingin mewujudkan sesuatu kau hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri. Jangan ceritakan biar suara keberhasilannya saja yang menjerit. Aku jatuh dan bangkit adalah satu-satunya pilihan. Jika dia matahari, akan kutantang dia. Meski panasnya menelanku. Meski aku kan hancur dan luluh.”