Rabu, 25 November 2015

Bulan Masa Kini

Kepalaku menengadah dan melihat bulan seperti hampir purnama. Cahayanya sampai kepadaku namun redup dan wajahnya pun terlihat buras. Awan telah membedaki wajahnya dengan tidak rapi. Dingin udara malam sehabis hujan sore tadi turut membuat suasana muram.

Gambar diambil dari sini

Apa yang kau lakukan saat purnama atau saat hampir purnama? Atau hanya saat kau melihat bulan, sengaja maupun tidak sengaja? Apa kau akan tertegun sebentar lalu berlalu, atau langsung berlalu setelah sekilas bertatap muka?

Ah, ada banyak yang bisa dilihat saat ini di dunia. Beberapa gedung bahkan seperti mulai menyaingi tingginya bulan. Dan aku di sini masih berpikir, betapa ramainya imajinnasi pada waktu dulu. Deretan aliran cerita ajaib yang berasal hanya dari melihat bola langit itu di malam hari, yang kuyakin udaranya lebih dingin dari saat ini. 

Aku melihat bulan yang hampir purnama malam ini. Aku meliatnya dengan berdiri di halaman belakang rumah di dekat tali jemuran. Iya, aku sedang menjemur pakaian di saat malam mulai beranjak naik ini. Aku tadi siang terlupa dengan cucianku itu dan sesorean hujann mengguyur bumi. Ah, mungkin kuharus menyimpan beberapa tetes cahaya dari bola yang bersinar di atas bumi itu di dalam botol kaca. Mungkin saja cahayanya bisa mengobati kebiasaan khilaf dan lupa yang kumiliki.

Aku menjemur pakaian, menatap bulan yang hampir purnama, lalu mengarang cerita tentang keajaiban. Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan di malam ini?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar