Jumat, 26 Juni 2015

Hai, apa kabar? Ini cerita yang panjang

Haii..yeah aku kembali lagi ke sini, menulis di sini. Hampir 10 bulan aku mengabaikan blog ini. Aku terlalu sibuk, yeah, katakanlah sibuk ini dan itu. Dan aku lupa untuk mengamati dan mengenal diriku sendiri. Aku sibuk tak menentu, tak karuan, tak jelas. Oh oke, mungkin aku sebenarnya bingung. Usia 20an boleh jadi menyenangkan tapi juga membingungkan. Yeah, life, my friend!

gambar diambil dari sini

Kalian tahu, kapan aku menuliskan tulisan ini? Oh my God, guys, saat ini pukul 7 pagi. Garis sinar matahari sedikit memantul dari jendela kamarku. Dan dua berkas sinar yang agak lebar itu mengintipku dan berkedip sembari melihatku dari dinding kamar. Ahh, pagi, my friend! Sudah lama sekali aku tidak merasakan pagi. Aku jarang bisa tetap terjaga saat pagi seperti ini. Yeah, terjaga dan mencoba menyelami diri sendiri. Mereguk pagi ini sampai puas.

Oke, mungkin tulisan kali ini agak panjang. Memang blog ini khusus untuk tulisan pendek berkisar 4 paragraf. Tapi, yeah, anggap saja kali ini “Edisi Spesial”. Aku mau membeberkan apa saja yang teringat di kepala ini. Aku akan menuliskannya tanpa pengendapan. Membiarkan kata-kata ini menjadi ajaib saat aku membaca ulang, mungkin beberapa bulan atau tahun kemudian, jika Tuhan masih mengizinkanku untuk ada dan membacanya.

Yeah, kalian tentu tahu (semoga kalian tahu), aku membuat blog ini untuk menampung luberan pikiran dari otak kananku. Hmm, memang aku tidak tahu 100%, tapi anggap saja luberan dari otak kananku, oke. Dan mulai detik ini, blog ini akan jadi blog rahasiaku. Aku akan menghapus informasi umum yang terkait dengan identitasku. Aku hapus contact dan mungkin aku akan mengganti nama dan alamat blog ini, jika hal itu bisa kulakukan. Ini blog rahasia. Oke, mungkin bukan rahasia, jika kalian mengenalku dan tahu blog ini milikku.

Lalu mengapa harus rahasia? Haha, entahlah. Itu yang terlintas di kepala saat ini. Bukankah hidup memang penuh rahasia, bukan? Hmm, mungkin aku hanya ingin merasa lebih bebas saja. Tanpa beban saat menuliskan karena (mungkin) tidak perlu menjelaskan kepada orang yang kukenal perihal mengapa aku menuliskan hal-hal bodoh tapi keren seperti ini. Oh, ayolah, tolong bilang ini keren, haha.

Dan selain itu, hmm, aku ingin tahu lebih banyak tentang diriku. Aku ingin mempelajari diriku sendiri. Jadi aku menganggap ini riset kecil-kecilanku. Aku ingin tahu seberapa "menakjubkannya" aku saat aku hanya menunjukkan diriku apa adanya. Tanpa pertimbangan, ini benar dan ini salah. Atau ini tidak boleh dan ini yang sebaiknya. Atau tanpa harus takut menyakiti hati siapapun. Mau sejahat, seaneh, se-menyedihkan apa nanti yang kutuliskan tanpa pertimbangan apa-apa, aku sudah tak peduli lagi. Aku ingin dipahami dan diterima sebagaimana layaknya seorang manusia. Penuh ketidaksempurnaan. Aku ingin dipahami, dimengerti. Dan yeah, sebelum itu aku harus memahami, mengerti akan diriku sendiri. Ini agak gila, namun aku memang harus mencari tahu dari sekarang.

So, mungkin aku akan mengoceh tak jelas, mutar-mutar kesana sini baru keintinya, atau bisa juga aku akan terlihat gila karena yeah, sepertinya membiarkan otakku liar tak terkendali. Haha, siapapun yang membaca ini, dan masih meneruskan untuk membaca, tolong bersikap maklum. Jangan protes! :D

Baiklah, aku tidak tahu bagaimana harus memulainya atau topik apa yang menarik untuk dibahas saat ini. Hmm, akan aku biarkan saja mengalir. Kita lihat nanti apakah membentuk suatu garis yang lurus atau garis bergelombang, mencong sana sini.

Oke, aku akan cerita mengapa aku bisa tetap sadar dan tidak tidur di waktu pagi ini. Kalian tahu, sampai-sampai Ibuku menegur dan bertanya kenapa aku tumben bangun pagi, haha. Oh ya, aku sebenarnya cukup berjuang untuk tetap terjaga hingga saat ini. Aku sudah terjaga sejak waktu sahur tadi. Yeah, ini bulan Ramadan dan aku beragama Islam.

Aku baru menyelesaikan membaca sebuah novel berjudul Gone. Ini novel trilogy, dan Gone adalah seri terakhir dari trilogi tersebut. Aku mulai membacanya semalam tadi sebelum tidur. Dan pagi ini aku menamatkannya. Novelnya pendek dan ringan, hanya 200an halaman. Makanya bisa kutamatkan segera. Ceritanya lebih serius dari dua seri sebelumnya. Aku sempat nangis, lho! Sedih dan tersentuh. Novel yang bagus. Bukan karena berhasil membuatku nangis, hanya memang karena ceritanya menarik dan unik.

Oke, balik lagi ke pertanyaan sebelumnya, aku tetap terjaga dengan bantuan novel tersebut. Namun selain itu, aku juga bisa terjaga karena aku memutuskan untuk tetap terjaga. Jujur, aku sebenarnya sulit membuat sebuah keputusan. Kadang aku ini pengecut. Aku takut dengan konsekuensi dari pilihan tersebut dan aku malas bertanggung jawab. Yeah, bukan sifat yang bagus. Namun aku akan berdamai dengan hal itu.

Hey, siapa sih manusia yang sempurna. Semua pasti punya sifat jelekkan? Aku kadang sebal dengan orang-orang yang sulit untuk memaklumi hal itu. Apalagi kalau sampai menghakimi, men-judge, meremehkan, lalu menjauhi. Memang kita punya keterbatasan dalam bertoleransi, tapi, ayolah, jika sifat jeleknya tidak mengganggu hidupmu, mengacaukan hidupmu, atau membunuh hidupmu, yeah sudah. Cukup kasih pengertian dengan lembut. Dan jangan menghakimi. Cukup!

Masih terkait dengan pagi ini, hmm, semalam aku susah tidur. Yeah, seperti biasa, aku memang sulit tidur. Namun malam tadi aku juga menangis sesunggukan. Ada hantu di masa lalu yang masih mengejar dan mencoba mencekikku. Hantu yang membuatku terus mencari hal itu: kedamaian dan rasa aman. Dan aku tetap sulit tertidur walau aku tahu besok harus bangun untuk sahur. Berbagai pikiran buruk menyerangku, dan mencakar otakku. Kalian tahu rasanya, menyakitkan. Aku gak tahu harus membicarakan ini dengan siapa. Maksudku entahlah apa aku perlu membicarakannya dengan manusia lainnya kalau ada manusia lainnya yang menyakiti perasaanku. Yeah, aku agak skeptis err mengenai hal itu.

Lalu hal ajaib terjadi malam tadi. Saat aku sudah berhenti menangis sedih dan mulai tenang dan mencoba tidur namun gagal karena kegelisahan itu datang lagi. Yeah, ini mungkin ganjil. Terserah mau percaya atau tidak, namun aku mendengarnya. Aku yakin mendengarnya dan aku yakin aku sadar sesadarnya. Ada suara dibenakku. Entah suara laki-laki atau perempuan, aku gak tak tahu. Suara itu lembut, tegas, dan baik. Yeah, suara yang baik. Suara itu bilang: aku menyayangimu, Ki.

Suara itu tulus. Aku bisa merasakannya. Airmataku merebak. Aku menangis lagi. Namun bukan tangisan sedih seperti sebelumnya. Ini tangisan kehangatan. Ada rasa damai dan tenang yang terselip. Aku tak mau berpikir macam-macam. Mungkin itu suara dari diriku sendiri. Suara dariku dan untuk diriku sendiri. Aku tidak merasa sendiri. Dan saat itu aku tahu, aku mampu melawan hantu masa lalu tersebut. Aku merasa disayangi hingga ke dasar hati terdalam. Seperti angin disaat kepanasan. Atau seperti rasa teduh, naungan di bawah panas matahari. Seperti pagi dengan harapan yang dibawanya. Alhamdulillah. :)

Dan yeah, aku berhasil meneruskan semangat itu hingga pagi ini. Ah, ingin rasanya waktu ini tetap pagi seperti ini. Ingin rasanya harapan dan rasa positif ini terus berdenyar. Yeah, jika saja kubisa menghentikan waktu. Menghirup pagi dengan rakus.

Guys, aku harus berhenti menulis sekarang. Ada hal lain yang mau aku kerjakan. Kita lihat cerita apa yang dibawa oleh hari esok, pagi yang lainnya. Dan kita lihat perubahan apa yang mungkin terjadi dengan blog ini. Mudah-mudahan bisa kutemukan ceritanya. Mudah-mudahan Allah mengijinkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar