Rabu, 30 Juli 2014

Laron dan Sayapnya

Source. Edited by me.

Ada satu scene atau adegan nyata yang mungkin seharusnya aku potret. Adegan itu aku lihat saat menghabiskan malam sehabis buka puasa dengan teman Clebubb-ku: Fandy, Dewi, plus Bang Uun, dan juga ada Ez. Saat itu sekitar pukul 9 malam lewat.

Angin dingin menusuk hingga ke tulang sebab seharian tadi hujan turun tak berjeda. Kami duduk di emperan jalan menunggu bandrek dan kentang goreng untuk siap disajikan. Malam masih hidup. Mobil dan motor berlalu lalang. Lampu jalan dan air mancur di bundaran Tugu Juang, turut mempercantik malam.

Sembari mengobrol sana sini aku menangkap adegan itu dengan kedua mataku. Seekor laron (rayap) terbang sendirian di atas trotoar. Arah terbangnya melawan arus jalan. Laron itu memunggungiku. Sayapnya yang tipis mengembang. Tidak seperti biasanya, laron itu terbang sendirian. Di bawah cahaya lampu jalan, laron itu terbang dengan cantiknya.

Bagaimana bisa sayapnya yang tipis itu melawan dingin yang menusuk tajam? Sayap yang sebentar saja bisa dengan mudah terlepas dari tubuhnya. Mengapa sayap laron itu rapuh? Mengapa Tuhan tidak menciptakan sayapnya seperti sayap nyamuk, walau tipis namun mampu terus melekat? Ahh, iya, bagaimana pula sayap yang tipis dan rapuh itu mampu mengangkat tubuh laron yang sepertinya lebih berat itu?

Laron selalu mampu membuatku ingat akan masa kecil. Saat berlari-lari dan menangkapinya dengan kedua tangan mungilku. Membiarkannya berjalan-jalan menyusuri jari jemari. Entah bila laron itu sebenarnya kotor dan terlihat menggelikan, namun ada kenangan yang menari di benak ini bersama mata yang menangkap kepakan sayap-sayapnya. Sampai saat ini pun aku masih tak keberatan bermain dengan laron dan sayap-sayapnya.

Dua Kisah tentang Rasa Syukur

Kisah Pertama...
Saat itu hati masih terbebani dengan kesedihan yang menyusup diam-diam. Berpikir dan merasa seolah beban hidup maha besar sedang menimpa. Namun syukurlah, Tuhan segera menyentuh hati ini dengan manis.

Di malam itu, di pelataran sebuah toko, aku melihat seulas senyum bahkan lalu sebuah tawa dari seorang yang berjalan tidak dengan kakinya. Seorang yang kedua tungkainya tidak mampu menopang tubuhnya secara sempurna. Dunia boleh jadi terasa menghimpit. Namun dia memilih untuk mengusir mendung agar tidak menggelayuti senyumannya.

Ya, di malam itu Tuhan mengajariku tentang ketabahan dan penerimaan.

Source

Kisah Kedua...
Siang berlalu dengan panas matahari yang menyengat. Aku berjalan membawa beban di tangan kanan, menyusuri kelokan pasar bersama Emak tersayang. Rasa haus dan lapar membuahkan lelah. Namun masih ada satu tempat lagi yang harus dituju.

Tap, tap!
Aku mendengar langkahnya. Bunyinya tidak biasa. Lebih berat dari tapak pantopel yang memukul jalan. Ku pun melirik ke kanan. Tepat di sampingku, kulihat ada sesuatu yang tidak biasa dengan tungkai kirinya. Tungkai itu tak berdaging, tak berkulit, tak berbulu. Tungkai itu tungkai kayu. Diwarnai serupa mungkin dengan warna tubuh manusia. Terpoles dan mengkilap di bawah sinar matahari.

Bapak tua pemilik tungkai kayu itu berjalan selangkah demi selangkah. Ada sebuah tongkat yang mungkin membantunya untuk menyeimbangkan tubuh. Itu pertama kalinya, di depan mata, ku melihat seorang berjalan dengan kaki kayu sepanjang lutut ke bawah. Kutatap kedua kakiku yang masih berjalan seirama menyusuri kelokan pasar. Bersama tiupan hangat matahari siang dan peluh yang mengucur, angin berbisik kepadaku: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Two Poems

Keping 3: Mata

Source. Edited by me.


Keping 4: Menari

Source. Edited by me.

June New Comer (2014)

June has passed. Alhamdulillah, there are many things Allah has given to me. Come closer! We'll see what are the new comer(s) of June 2014. :D


Yaiyy, I got a new hand bag. Ohh, looks lovely, rite? My mom asked me to accompany her to do some shopping. And tadaa.. She bought this for me. Thank you, Mom!

gambar diambil dari sini

Then, what else, kah? Wow, there's a bunch of new clothes here. Alhamdulillah. Still, I got it from my Mom. I don't know how to explain her love for her daughters and also for her family. That's just too much. I promise, Mom! There'll be time where it's my turn to please you. I'm gonna make that chance soon. Insya Allah, aamiin.

Well, okay, folks. That's what I can tell about New Comer(s) of June 2014. All praise is due to Allah.

Rabu, 02 Juli 2014

Juli 2014 "Horizon: Terbang dan Menangkap Kupu-kupu"

gambar diambil dari sini

Pernakah kamu memandang jauh dan menemukan satu garis pembatas yang panjang yang memisahkan langit dan bumi? Ya, garis yang umumnya di sebut sebagai Horizon. Dan sebagaimana lumrahnya Horizon sebagai pembatas, seolah ingin mengisyaratkkan kepadaku, bahwa untuk beberapa hal, aku sudah sampai di batas itu.

Aku lelah untuk meringsek maju. Oh, bukan..bukan! Aku tidak menyerah, itu berbeda. Hanya saja hampir semua hal memiliki batas. Dan ada satu hal di mana aku sudah sampai di batas itu. Imbasnya, untuk hal itu, aku menerima dan tidak ada lagi yang bisa kupaksakan.