Jumat, 01 Agustus 2014

Day Three

Happy Ied Mubarak, Folks! :D

Source

I wrote this on day three of Syawal 1435H. The rain was fell very heavy in the morning but it was stopped at the noon. The air became little bit cold but I love it. Mostly during days on the last Ramadhan, the whether was so hot. There was also no rain for almost two weeks. Tough days of Ramadhan, anyway! And this morning was also a tough moment for workers who should go work. Yep they needed to dance with the rain this morning.

How about me?

I just sit and wrote this using my lovely old computer. I typed word per word to create some new post for August 2014. What’s the best? Oh, Much! One of them was a glass of cola and crispy cookies. Also I enjoyed the sunlight which came through the window. Oh, I really love the color of this light! :D

Yeah, maybe I need to play song, one or two or more. But sadly, I can’t concentrate well on my writing if there’s a noisy sound from MP3 player or any else player. Well, how about yourself, Folks? What the best thing you do today? :D

Puisi: Menerima

Source. Edited by me.

Tak bisakah kita berdamai hai Kepedihan?
Kemari… kemarilah lebih dekat
Biar aku memelukmu
Biar aku mengusapmu
Meski kamu penuh duri-duri
Biarkan kita berdarah bersama
Berdarah untuk sembuh kembali

Agustus 2014 “The Roar: Bersabar dan Tepat Menyergap”

Source

Hampir seluruh bulan Juli lalu dihabiskan untuk berpuasa. Ya, bulan Juli lalu memang berjalan hampir beriringan dengan bulan yang penuh berkah, Ramadhan. Dan mungkin oleh karena itulah, waktu berlalu tanpa terasa.

Kesibukan dan pembelajaran tentang kehidupan di bulan Ramadhan kali ini telah menyisakan kerinduan dan harapan di hati ini untuk berjumpa lagi dengan Ramadhan tahun berikutnya. Mudah-mudahan saja kita semua masih diberi Tuhan nikmat yang besar yaitu mempertemukan kita dengan Ramadhan yang akan datang. Berharap pula bertemu dalam kondisi pribadi yang lebih baik lagi dan masih bersama orang-orang terkasih. Aamiin.

Kini pesantren kehidupan bernama Ramadhan telah usai. Saatnya meraih kemenangan setelah sebulan melatih kesabaran demi mendapatkan dengan tepat rahmat dan kasih sayang Tuhan. Tentu saja, kemenangan tidak boleh berhenti di sini. Bagaimanapun, menjaga lebih sulit dari pada mendapatkan. Mudah-mudahan kita semua diberi ketetapan hati yang tangguh untuk menjaga arti kemenangan ini dengan sebaik mungkin sehingga tidak tercecer kemana-mana.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H. Selamat meraih kemenangan. Mohon maaf lahir dan batin. :)

Rabu, 30 Juli 2014

Laron dan Sayapnya

Source. Edited by me.

Ada satu scene atau adegan nyata yang mungkin seharusnya aku potret. Adegan itu aku lihat saat menghabiskan malam sehabis buka puasa dengan teman Clebubb-ku: Fandy, Dewi, plus Bang Uun, dan juga ada Ez. Saat itu sekitar pukul 9 malam lewat.

Angin dingin menusuk hingga ke tulang sebab seharian tadi hujan turun tak berjeda. Kami duduk di emperan jalan menunggu bandrek dan kentang goreng untuk siap disajikan. Malam masih hidup. Mobil dan motor berlalu lalang. Lampu jalan dan air mancur di bundaran Tugu Juang, turut mempercantik malam.

Sembari mengobrol sana sini aku menangkap adegan itu dengan kedua mataku. Seekor laron (rayap) terbang sendirian di atas trotoar. Arah terbangnya melawan arus jalan. Laron itu memunggungiku. Sayapnya yang tipis mengembang. Tidak seperti biasanya, laron itu terbang sendirian. Di bawah cahaya lampu jalan, laron itu terbang dengan cantiknya.

Bagaimana bisa sayapnya yang tipis itu melawan dingin yang menusuk tajam? Sayap yang sebentar saja bisa dengan mudah terlepas dari tubuhnya. Mengapa sayap laron itu rapuh? Mengapa Tuhan tidak menciptakan sayapnya seperti sayap nyamuk, walau tipis namun mampu terus melekat? Ahh, iya, bagaimana pula sayap yang tipis dan rapuh itu mampu mengangkat tubuh laron yang sepertinya lebih berat itu?

Laron selalu mampu membuatku ingat akan masa kecil. Saat berlari-lari dan menangkapinya dengan kedua tangan mungilku. Membiarkannya berjalan-jalan menyusuri jari jemari. Entah bila laron itu sebenarnya kotor dan terlihat menggelikan, namun ada kenangan yang menari di benak ini bersama mata yang menangkap kepakan sayap-sayapnya. Sampai saat ini pun aku masih tak keberatan bermain dengan laron dan sayap-sayapnya.

Dua Kisah tentang Rasa Syukur

Kisah Pertama...
Saat itu hati masih terbebani dengan kesedihan yang menyusup diam-diam. Berpikir dan merasa seolah beban hidup maha besar sedang menimpa. Namun syukurlah, Tuhan segera menyentuh hati ini dengan manis.

Di malam itu, di pelataran sebuah toko, aku melihat seulas senyum bahkan lalu sebuah tawa dari seorang yang berjalan tidak dengan kakinya. Seorang yang kedua tungkainya tidak mampu menopang tubuhnya secara sempurna. Dunia boleh jadi terasa menghimpit. Namun dia memilih untuk mengusir mendung agar tidak menggelayuti senyumannya.

Ya, di malam itu Tuhan mengajariku tentang ketabahan dan penerimaan.

Source

Kisah Kedua...
Siang berlalu dengan panas matahari yang menyengat. Aku berjalan membawa beban di tangan kanan, menyusuri kelokan pasar bersama Emak tersayang. Rasa haus dan lapar membuahkan lelah. Namun masih ada satu tempat lagi yang harus dituju.

Tap, tap!
Aku mendengar langkahnya. Bunyinya tidak biasa. Lebih berat dari tapak pantopel yang memukul jalan. Ku pun melirik ke kanan. Tepat di sampingku, kulihat ada sesuatu yang tidak biasa dengan tungkai kirinya. Tungkai itu tak berdaging, tak berkulit, tak berbulu. Tungkai itu tungkai kayu. Diwarnai serupa mungkin dengan warna tubuh manusia. Terpoles dan mengkilap di bawah sinar matahari.

Bapak tua pemilik tungkai kayu itu berjalan selangkah demi selangkah. Ada sebuah tongkat yang mungkin membantunya untuk menyeimbangkan tubuh. Itu pertama kalinya, di depan mata, ku melihat seorang berjalan dengan kaki kayu sepanjang lutut ke bawah. Kutatap kedua kakiku yang masih berjalan seirama menyusuri kelokan pasar. Bersama tiupan hangat matahari siang dan peluh yang mengucur, angin berbisik kepadaku: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?